Rabu, 29 April 2015

 
Antara Sarjana (Nganggur) atau Mahasiswa Tingkat Akhirat


Beban dengan titel gelar yang disematkan, apalagi persaingan dunia kerja yang semakin "Afgan" ( Sadis) membuat dilema untuk Para Mahasiswa Tingkat Akhir. Memilih cepat- cepat saja menyelesaikan studi atau pilih cuti untuk cari kerja supaya dapat pengalaman.

Lantas apa bedanya mencari kerja setelah lulus kuliah?
Pertanyaan tersebut bisa dijawab dengan ilustrasi sebagai berikut, Ketika seorang Lulusan SMU/Sederajat mengerjakan hal- hal remeh temeh yang lebih bersifat teknis mungkin mereka akan mengerjakannya dengan penuh semanngat tanpa beban, sedanggkan bila seorang S.Ikom/S.Ip /S.Sos yang baru memulai mengaplikasikan ilmunya di dunia kerja, alias Trainee/Magang mau tak mau/suka tak suka mereka harus melakukan apa yang Lulusan SMU itu lakukan, nah di sinilah problemnya kenapa mereka Sang Penempuh Studi Tingkat Akhirat pun menjadi gamang untuk cepat-cepat mengakhiri studinya sebelum merasakan atmosfir dunia kerja tersebut.

Jujur, selain faktor di atas tadi ada banyak faktor penyebab Seorang Mahasiswa menunda studinya, selain faktor contoh sukses dari orang-orang yang "woles" selesaikan studi juga karena paranoid menjadi Pengangguran Berpredikat Sarjana atau sebaliknya. Dan penderitaan itu semakin menjadi-jadi ketika melihat tayangan berita/talkshow di tv yang meng-ekspose para enterpreneur (pengusaha) sukses yang bahkan tak tamat SD bahkan tak tahu kalau Presiden Republik ini Sudah bukan Pak Harto lagi.

Ah, mengapa aku tak mencari kerja saja setelah lulus SMU dulu, mengapa aku tak mati-matian belajar hingga masuk perguruan tinggi ternama, atau kenapa setelah SMU tak langsung menikah saja supaya fokus cari nafkah untuk anak isteri. Dan masih banyak lagi angan-angan bila waktu bisa di "rewind". Usia makin bertambah, generasi baru terus lahir, dan kompetisi hidup semakin "Iis Dahlia" (Kejam) dan seleksi alam pun bekerja. Yang kuat akan mengalahkan yang lemah, yang pintar akan mengalahkan yang otaknya penuh dengan fantasi maria ozawa, yang oportunis hanya akan menyulitkan dirinya sendiri.

Kreativitas, Inovasi, dan momentum menjadi penting di era digital ini. Yang gaptek akan sulit untuk bersaing. Yang tak punya Link akan sulit menjalin kerja sama. Dan hanya para komik dan penyanyi dangdutlah di zaman ini yang akan bertahan di era persaingan bebas.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar