Sabtu, 16 Mei 2015

Lapang Dada

Kemarin, mereka resmi jadi suami isteri. Alhamdulillah ikut senang J

Meski hati kecil masih sedikit jlebb sih. Tapi zalim banget kayanya gue kalo harus dongkol sama mereka.

Yang jelas gue salut karena hubungan mereka bisa bertahan dari semenjak gue gak tahu kalo doi secara diam-diam udah hengkang ke hati temen gue :D

9 Tahun men, lama banget kan. Apa gk bosen tuh hehe. 

One by one temen-temen semasa STM udah pada nikah, malah ada yang udah gede anaknya. Gak deng palingan masih pada bayi huehue..

Anyway, Selamat yah atas pernikahannya, maaf gak bisa dateng, takutnya malah ngabisin makanan entar hehe ..


Once more, Congratulations guys. . Semoga cepet dikasih momongan B-)





Antara Februari sampai April 2015

Tak ada ide, Mungkin Kurang piknik atau memang sudah tak pernah piknik bahkan berkegiatan apapun.

Selain hanya di rumah, menghabiskan waktu dengan menonton acara tv, tidur subuh, bangun siang, makan seadanya, sudah lupa rasanya disinari matahari, terkena asap damri, macet, dan kehujanan.

Tak produktif, tapi sedikit lebih baik karena mungkin tak banyak ngeluarin duit. Nonton #DearJokowi1Feb dan Persib vs New Radiant Sc, hanya kegiatan itu yang bisa dibilang kegiatan piknik. 




Tapi tak apalah, masih banyak orang di antah berantah sana yang bahkan setahun sekali pun berkunjung ke rumah sodara yang jauh dianggap sebagai piknik yang sangat menyenangkan.

Tak Tentu arah di Durasi hidup yang kian berkurang, kematian, itu pasti. Tua itu pasti dan bijak adalah pilihan bisa saja tak berlaku untuk orang yang jatah hidupnya tak sampai waktu tua.

Tak banyak opsi hidup untuku saat ini, Selain melanjutkan kuliah yang sangat memuakan, dan hanya ada satu opsi berbisnis dengan seorang teman yang sepertinya sulit dijalani dengan kondisiku saat ini.

Bekerja dengan lingkungan teman semasa Sekolah akan sangat menyulitkan, tetapi hanya berdiam diri dan mengandalkan subsidi orang tua juga lama kelamaan akan menjadi buntu, saya sadar bantuan mereka sudah tak terhingga. Saya yang tak tahu diri ini tak mensyukuri bantuan Finansial dan Kasih Sayang dari mereka.

Lantas apa yang harus saya lakukan, mereka juga sudah muak dengan ku yang tak bisa diajak berdiskusi. Lalu apakah saya yang egois. Benar, tapi mereka harusnya melihat saya pun tak berpoya-poya. Tak Merokok, Tak jatuh pada candu minuman keras, dan narkotika. Tapi yaah....

Terlalu banyak alasan, Mengakhiri diri bukan solusi. Tapi membiarkan diri tanpa pasti juga bukan jalan yang hakiki. ISIS ? Come On, Be Smart Man ...!! Indonesia is Perfect Heaven.

Ah, Hanya ada satu hari, dalam seminggu yang punya kegiatan padat,
Badminton/Futsal dan Nobar di Malam Hari. Ah apa itu menghasilkan, justru kegiatan itu hanya menghabiskan uang saja.

Tapi apa ada kegiatan yang menyehatkan, seru tanpa mengeluarkan uang. Lari di Saraga saja Minimal Uang keluar adalah ± Rp. 3.000, Cukup buat beli 2 Mie Instan tuh hahaha..

Lalu apakah Hanya melarikan diri dari tanggung jawab, Tak usah menyalahkan masa lalu, tak usah menyalahkan pola asuh/didik. Mereka sudah melakukan yang terbaik yang mereka mampu.

Buatlah mereka bangga atau minimal tak membuat mereka malu punya anak kaya lu.

Ah, Syuram gini euy..

Mereka selalu menganggap Uang adalah simbol kesuksesan, Ya tapi emang bener lah. Lu pikir jadi orang Smart yang miskin dan nyusahin itu ngebanggain.

Apa yang bisa gw lakuin buat bisa dpt duit banyak dlm waktu singkat, bakat gw gk bagus2 amat di suara.

Bakat gw di stand up commedy, gk pernah digali. Karena emang ikut komunitas itu gk murah broo.

Lalu apa yang bisa lu lakuin broo,

Lo cm bisa nulis biaya pengeluaran lo. Dan itu gk nolong ekonomi gw.


Ah Syurraaaammmm.....





       

Rabu, 29 April 2015

 
Antara Sarjana (Nganggur) atau Mahasiswa Tingkat Akhirat


Beban dengan titel gelar yang disematkan, apalagi persaingan dunia kerja yang semakin "Afgan" ( Sadis) membuat dilema untuk Para Mahasiswa Tingkat Akhir. Memilih cepat- cepat saja menyelesaikan studi atau pilih cuti untuk cari kerja supaya dapat pengalaman.

Lantas apa bedanya mencari kerja setelah lulus kuliah?
Pertanyaan tersebut bisa dijawab dengan ilustrasi sebagai berikut, Ketika seorang Lulusan SMU/Sederajat mengerjakan hal- hal remeh temeh yang lebih bersifat teknis mungkin mereka akan mengerjakannya dengan penuh semanngat tanpa beban, sedanggkan bila seorang S.Ikom/S.Ip /S.Sos yang baru memulai mengaplikasikan ilmunya di dunia kerja, alias Trainee/Magang mau tak mau/suka tak suka mereka harus melakukan apa yang Lulusan SMU itu lakukan, nah di sinilah problemnya kenapa mereka Sang Penempuh Studi Tingkat Akhirat pun menjadi gamang untuk cepat-cepat mengakhiri studinya sebelum merasakan atmosfir dunia kerja tersebut.

Jujur, selain faktor di atas tadi ada banyak faktor penyebab Seorang Mahasiswa menunda studinya, selain faktor contoh sukses dari orang-orang yang "woles" selesaikan studi juga karena paranoid menjadi Pengangguran Berpredikat Sarjana atau sebaliknya. Dan penderitaan itu semakin menjadi-jadi ketika melihat tayangan berita/talkshow di tv yang meng-ekspose para enterpreneur (pengusaha) sukses yang bahkan tak tamat SD bahkan tak tahu kalau Presiden Republik ini Sudah bukan Pak Harto lagi.

Ah, mengapa aku tak mencari kerja saja setelah lulus SMU dulu, mengapa aku tak mati-matian belajar hingga masuk perguruan tinggi ternama, atau kenapa setelah SMU tak langsung menikah saja supaya fokus cari nafkah untuk anak isteri. Dan masih banyak lagi angan-angan bila waktu bisa di "rewind". Usia makin bertambah, generasi baru terus lahir, dan kompetisi hidup semakin "Iis Dahlia" (Kejam) dan seleksi alam pun bekerja. Yang kuat akan mengalahkan yang lemah, yang pintar akan mengalahkan yang otaknya penuh dengan fantasi maria ozawa, yang oportunis hanya akan menyulitkan dirinya sendiri.

Kreativitas, Inovasi, dan momentum menjadi penting di era digital ini. Yang gaptek akan sulit untuk bersaing. Yang tak punya Link akan sulit menjalin kerja sama. Dan hanya para komik dan penyanyi dangdutlah di zaman ini yang akan bertahan di era persaingan bebas.



Di Balik CD Smack Down


Aku baru sadar kalo bapak beli CD itu sebenarnya agar diriku tidak jadi anak yang cengeng, lemah, kemayu, bahkan mungkin secara sadar beliau takut dengan segala faktor tontonan lain kala itu seperti Telenovela Amigos, dan arus Boyband yang begitu masif membuat ku "belok".

Aku terlalu sering berburuk sangka pada beliau, meski untuk beberapa hal kecil yang tak terlihat dan tak ku sadari atau bahkan tak ku syukuri.

Dibalik tontonan yang menurut KPI, KPAI, dan Kemkominfo tak laik tayang dan ditonton untuk anak seusiaku waktu itu, bapak sudah jauh-jauh hari memprediksi ancaman terhadap ku.

Dengan posisi ku sebagai anak bungsu laki-laki satu-satunya dalam keluarga, memiliki ke dua kakak perempuan, dan lebih jauh dari itu tetangga persis di depan rumah kurang lebih punya komposisi gender dan urutan yang sama dengan berisikan ayah, ibu, anak perempuan, anak perempuan, dan bungsu laki-laki. Dan Bapak melihat dampak langsung dari kurangnya pencegahan, penanganan, atau didikan yang mungkin kurang diperhatikan sebagai seorang anak laki-laki dari mereka. 

Lebih tepatnya pencucian otak, mendidik seorang lemah seperti ku menjadi seorang lelaki.

Dan memang sebagai seseorang yang dalam tanda kutip lelaki kemayu pada usia dewasa, biasanya dari kecil sudah terlihat tanda - tada atau ciri - cirinya.

Ah, sungguh tak tau diri, tak tau diuntung saya ini.

Aku pun sempat beranggapan doktrin CD Gulat ini sebagai doktrin kekerasan (meskipun ada benarnya) tapi di balik semua itu, secara tak ku sadari bahwa Bapak adalah seorang psikolog yang visioner.

Thanks Dad, You are The Goodfather.